Alhamdulillah Ramadhan, bulan yang penuh berkah semakin dekat. Saat yang dirindukan telah menjelang, saat berasyik masyuk dengan Sang Kuasa. Rasulullah dan para sahabat selalu menyambut Ramadhan dengan kegembiraan penuh dan khawatir umurnya tidak pernah sampai ke Ramadhan sehingga berdoa : Allahuma bariklana fii sya’ban, wa balighna ramadhan.”, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Sya’ban dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani).

Puluhan kali Ramadhan kita lewati tanpa bekas yang berarti. Ingatan tentang puasa masih seputar rasa lapar, haus, lemas, ngantuk, pusing, tak produktif dan seabreg hal-hal remeh lainnya. Sehingga saat Idul Fitri tiba kita pun bersorak seolah terbebas dari masa penderitaa. Kita sering lupa mengevaluasi kualitas puasa kita. Akankan puasa yang telah dilakukan puluhan kali ini mendekatkan kita pada tujuan puasa yaitu menjadi orang-orang yang bertaqwa?

Di Ramadhan kali ini, mari kita niatkan sekuat hati untuk berpuasa. Puasa artinya mengendalikan diri. Jika untuk hal-hal yang halal saja harus mengendalikan diri, apalagi untuk hal-hal yang haram. Misalnya, berdusta, berbohong atau berkata tidak benar baik hal kecil apalagi hal besar. Coba perhatikan kebiasaan kita. Betapa mudahnya berbohong. “Sudah jalan,” begitu jawab kita saat ditelepon seseorang yang janjian mau ketemu, padahal baru berangkat ke luar rumah. Banyak lagi kebohongan-kebohongan sepele yang mestinya bisa dihindari, tapi toh kita lakukan karena kita anggap itu hal kecil. Berbohong seolah-olah bukan suatu dosa. Padahal, kecil ataupun besar, berkata dusta tetaplah hal yang dimurkai Allah. Betapapun kecilnya, berbohong membuat puasa kita sama sekali tak bernilai. “Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya).” (HR. Bukhari)

Ramadhan kali ini mari belajar berpuasa, mengendalikan diri untuk tidak mengatakan kebohongan. Mari belajar jujur. Mulai dari meningggalkan kebohongan-kebohongan yang tak perlu yang resikonya paling dimarahi teman, atasan atau pasangan, apalagi kebohongan yang hanya bersifat iseng dan main-main. Kalau sudah terbiasa berkata benar sebulan penuh, insya Allah bibit kejujuran kita pun tumbuh berkembang sampai pasca Ramadhan.

Berpuasa artinya sabar. Mari berpuasa, artinya belajar bersabar menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tidak mudah marah, tidak gampang tersinggung, menahan diri untuk mengkritik, menyalahkan, mengeluh dan berputus asa. Allah saja begitu sabar melihat tingkah dan kelakukan kita yang sering membantah dan membangkang. Allah tidak begitu mudah menghukum, member kesempatan kita untuk memperbaiki diri. Sabar juga berarti pemaaf dan lebih berempati pada perasaan orang lain.

Berpuasa, juga berarti mengendalikan diri terhadap keinginan untuk memiliki, menguasai sesuatu secara berlebihan, terutama harta. Kewajiban zakat, infak dan shadaqah diturunkan sebagai alat pemaksa manusia agar membatasi kecintaannya akan harta. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tak pernah puas, Allah menjanjikan pahala yang berlipat-lipat bagi orang yang mau berinfak dan bershadaqah kepada orang lain di bulan mulia ini. Rasulullah yang sangat dermawan pun, berlebih-lebih lagi kedermawanannya di bulan Ramadhan ini.

Marhaban ya Ramadhan, Mari berpuasa.
Banyak hikmah yang akan didapat dengan berpuasa. Kejujuran, kesabaran, kemurahan hati adalah obat bagi segala penyakit fisik dan jiwa. Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikannya. Ramadhan mestinya menjadi latihan rutin fisik dan jiwa kita. Dengan terus belajar berpuasa, minimal satu kualitas jiwa yang positif akan kita miliki secara bertahap. Hingga suatu saat kita bisa mencapai tujuan puasa.
Mari belajar berpuasa dengan benar. Jika hanya menahan lapar dan haus, belum tentu kita mendapatkan kebaikan Ramadhan.

“……….. maka barang siapa yang tidak memperoleh kebaikan Ramadhan, sungguh ia tidak mendapatkan kebaikan itu buat selama-lamanya (merugi)”. HR Ahmad, Nasaa’I dan Baihaqy.

Marhaban Ya Ramadhan 1430 H.
Ya Allah berikan kami kesempatan berpuasa dengan benar di Ramadhan kali ini, agar kami tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi dengan jiwa yang kuat, bersih, taat sehingga kapanpun Engkau memanggilnya, dia akan siap dan bersenang hati mendatangi Pemiliknya. Dan Engkau pun senang menerima kepulangannya.
Amin.


Ketiga, seorang mujahid sedang diserang bertubi-tubi oleh tank Israel. Sang mujahid berlari-lari menyelamatkan diri dari kejaran tank, tiba-tiba tembakan tank terkena pohon besar yang langsung tumbang menjatuhi sang mujahid.

Tentara Israel mengira sang mujahid sudah tewas sehingga meninggalkan tempat itu. Alhamdulillah, sang mujahid justru selamat terlindungi pohon, dia hanya lecet-lecet dan kembali ke pasukannya semula.

Karomah keempat, ketika ada keluarga yang anggota keluarganya menjadi syahid, mereka memutuskan untuk menguburkan jenazah-jenazah syahid tersebut dalam satu makam. Mereka menggali makam salah seorang keluarganya yang syahid tujuh tahun lalu.

Dan saat digali, subhanallah..... jenazah itu masih utuh, awer persis sama seperti saat dimakamkan. Wajahnya masih bersih, rambut gondrongnya sebahu juga rapi bahkan dahinya masih berkeringat seolah-olah baru dimakamkan. Ini membuat mereka semakin yakin akan kekuasaan Allah dan membuat mereka semakin merindukan syahid.

Karomah kelima, seorang mujahid ditugaskan untuk menjaga jalan masuk Gaza agar tank-tank Israel tidak masuk ke Gaza City. Karena jumlah mujahid yang terbatas, lokasi itu hanya dijaga oleh seorang mujahid. Dengan tugas yang strategis tersebut sang mujahid tidak bisa meninggalkan tempat untuk keperluan pribadi. Karena setiap saat ada tank yang lewat yang harus dia tembak. Dia hanya berbekal kurma. Berkat bantuan Allah sang mujahid kuat duduk berjaga, mengintai jalanan dalam cuaca yang sangat dingin itu selama sebulan!

Cerita tentang kepengecutan tentara Israel juga beredar.

Saking takutnya mereka kepada para mujahidin, dikabarkan mereka selalu menggunakan pampers saat bertugas di dalam tank, agar mereka tak perlu keluar tank saat buang hajat.


Subhanallah.....

Gaza memang luar biasa. Dengan karakter penduduknya yang sangat islami, suara hafalan Qur’an yang terus-menerus berkumandang, dan semangat jihad yang tak pupus, sangatlah wajar kalau Allah begitu mencintai mereka, sehingga keberkahan tetap terasa meski di tengah suasana perang.

Dengan kecintaan dan perlindungan Allah, kemenangan Gaza hanyalah soal waktu. Innallaha ma’al shabirin begitu keyakinan mereka.

Selamat berjuang rakyat Gaza, kami mendukung dan selalu mendoakanmu.